Monday, 11 June 2012
Resep: Nasi Goreng Sederhana
Ini adalah resep nasi goreng paling sederhana yang biasa aku buat di rumah, bahan-bahannya:
- Sepiring nasi putih
- 1 butir telur
- Terasi 1/4 sendok teh
- 2 siung bawang merah
- 1 siung bawang putih
- Kecap manis secukupnya
- minyak goreng
- garam secukupnya
- Panaskan minyak goreng, buat telur mata sapi, angkat dan sajikan di piring.
- Tumbuk bawang merah, bawang putih, dan terasi.
- Panaskan minyak, kemudian goreng bumbu yang telah ditumbuk sampai harum.
- Masukkan nasi putih, lalu goreng hingga kecokelatan.
- Tambahkan garam dan kecap manis sesuai selera.
- Aduk hingga tercampur rata.
- Angkat dan sajikan bersama telur mata sapi.
Saturday, 9 June 2012
Kutipan
Engkaulah gulita yang memupuskan segala batasan
dan alasan
Engkaulah penunjuk jalan menuju palung kekosongan
dalam samudera terkelam
Engkaulah sayap tanpa tepi yang membentang
menuju tempat tak bernama namun terasa ada
Ajarkan aku,
Melebur dalam gelap tanpa harus lenyap
Merengkuh rasa takut tanpa perlu surut
Bangun dari ilusi namun tak memilih pergi
Tunggu aku,
Yang hanya selangkah dari bibir jurangmu.
(Dee)
dan alasan
Engkaulah penunjuk jalan menuju palung kekosongan
dalam samudera terkelam
Engkaulah sayap tanpa tepi yang membentang
menuju tempat tak bernama namun terasa ada
Ajarkan aku,
Melebur dalam gelap tanpa harus lenyap
Merengkuh rasa takut tanpa perlu surut
Bangun dari ilusi namun tak memilih pergi
Tunggu aku,
Yang hanya selangkah dari bibir jurangmu.
(Dee)
Beautiful Korean
Beautiful right? Jadi kagum sama kecantikan orang korea...(Maksudnya pengen cantik kayak mereka juga). Tapi bagaimanapun, tetap harus mensyukuri ciptaan Tuhan...
Cita-citaku
Aku, bukan anak yang pintar.
Bukan pula anak yang brilian.
Aku hanya anak yang biasa saja.
Sejak kecil, aku menempuh pendidikan negeri.
Belajar dan belajar.
Menghabiskan uang untuk membeli buku yang tak sempat kubaca habis.
Mengorbankan milyaran detik untuk menonton tv daripada membaca buku.
Memang aku bukan orang yang hobi membaca.
Apalagi buku yang penuh pemikiran mendalam.
Hanya menambah beban saja.
Aku tidak pernah susah.
Tidak pernah merasakan susahnya mencari sesuap nasi.
Orangtuaku memberiku segalanya.
Segalanya, sampai aku tidak pernah menangis karena kehilangan sesuatu.
Untuk itu, aku bersyukur.
Beranjak dewasa, lingkungan mulai berubah.
Orang-orang sekelilingku mulai berlari berlomba dengan waktu.
Siapa cepat, dia dapat. Itu prinsip.
Akupun mulai menyadari bahwa aku tidak boleh terus begini.
Tidak boleh terus bermalas-malasan menonton tv.
Atau menghabiskan uang membeli sesuatu yang gak penting.
Dan untuk pertama kalinya, aku berkomitmen pada diri sendiri.
Waktuku, tidak boleh terbuang percuma.
Aku diterima di universitas.
Berkuliah, menerima pendidikan sebagai calon guru.
Awalnya, menjadi guru tidak ada dalam daftar cita-citaku.
Kupikir aku tak akan mampu.
Kupikir aku tak akan bisa.
Bertanggung jawab pada Tuhan.
Mendidik anak-anak dengan cara yang benar.
Namun, seiring waktu.
Entah mengapa ada sebuah keyakinan dalam diriku.
Aku pasti bisa.
Aku pasti bisa.
Akupun meyakininya.
Aku bisa menjadi guru.
Cita-citaku menjadi guru.
Aku pasti bisa.
Bukan pula anak yang brilian.
Aku hanya anak yang biasa saja.
Sejak kecil, aku menempuh pendidikan negeri.
Belajar dan belajar.
Menghabiskan uang untuk membeli buku yang tak sempat kubaca habis.
Mengorbankan milyaran detik untuk menonton tv daripada membaca buku.
Memang aku bukan orang yang hobi membaca.
Apalagi buku yang penuh pemikiran mendalam.
Hanya menambah beban saja.
Aku tidak pernah susah.
Tidak pernah merasakan susahnya mencari sesuap nasi.
Orangtuaku memberiku segalanya.
Segalanya, sampai aku tidak pernah menangis karena kehilangan sesuatu.
Untuk itu, aku bersyukur.
Beranjak dewasa, lingkungan mulai berubah.
Orang-orang sekelilingku mulai berlari berlomba dengan waktu.
Siapa cepat, dia dapat. Itu prinsip.
Akupun mulai menyadari bahwa aku tidak boleh terus begini.
Tidak boleh terus bermalas-malasan menonton tv.
Atau menghabiskan uang membeli sesuatu yang gak penting.
Dan untuk pertama kalinya, aku berkomitmen pada diri sendiri.
Waktuku, tidak boleh terbuang percuma.
Aku diterima di universitas.
Berkuliah, menerima pendidikan sebagai calon guru.
Awalnya, menjadi guru tidak ada dalam daftar cita-citaku.
Kupikir aku tak akan mampu.
Kupikir aku tak akan bisa.
Bertanggung jawab pada Tuhan.
Mendidik anak-anak dengan cara yang benar.
Namun, seiring waktu.
Entah mengapa ada sebuah keyakinan dalam diriku.
Aku pasti bisa.
Aku pasti bisa.
Akupun meyakininya.
Aku bisa menjadi guru.
Cita-citaku menjadi guru.
Aku pasti bisa.
Monday, 4 June 2012
Kahlil Gibran
Ini adalah puisi karya Kahlil Gibran yang pertama kali kubaca dan dalam sekejap dapat membuatku takjub. Puisi yang mampu menceritakan sudut pandang yang berbeda yang mungkin tidak dapat dilakukan penyair lainnya. Puisi yang tajam mengkritik namun dengan estetik. Sebuah puisi yang dapat membuatku merenung akan arti diri. Merenungkan setiap tindak dan langkah yang kutapaki. Puisi yang memberikan pengaruh positif setelah membacanya. Kuharap, apa yang kurasakan juga dapat dirasakan oleh pembaca lainnya. Selamat membaca...
SURAT DARI KEKASIH
Untukmu yang selalu Kucintai,
Saat kau bangun di
pagi hari, Aku memandangmu dan
berharap engkau akan berbicara kepadaKu.,
bercerita,
meminta pendapatKu, mengucapkan sesuatu untukKu
walaupun hanya
sepatah kata.
Atau berterima kasih kepadaKu atas sesuatu hal
yang
indah yang terjadi dalam hidupmu pada tadi malam, kemarin, atau waktu
yang lalu....
Tetapi Aku melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk
pergi bekerja...
Tak sedikitpun kau menyadari Aku di dekat mu.
Aku
kembali menanti saat engkau sedang bersiap,
Aku tahu akan ada sedikit waktu
bagimu untuk berhenti dan menyapaKu, tetapi engkau terlalu sibuk...
Di
satu tempat, engkau duduk tanpa melakukan apapun.
Kemudian Aku melihat engkau
menggerakkan kakimu.
Aku berpikir engkau akan datang kepadaKu, tetapi
engkau
berlari ke telepon dan menelepon seorang teman untuk sekadar
berbual-bual.
Aku melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan
Aku
menanti dengan sabar sepanjang hari. Namun dengan
semua kegiatanmu Aku
berpikir engkau terlalu sibuk
untuk mengucapkan sesuatu
kepadaKu.
Sebelum makan siang Aku melihatmu memandang ke
sekeliling,
mungkin engkau merasa malu untuk berbicara
kepadaKu, itulah sebabnya mengapa
engkau tidak
sedikitpun menyapaKu.
Engkau memandang tiga atau empat
meja sekitarmu dan
melihat beberapa temanmu berbicara dan menyebut
namaKu
dengan lembut sebelum menjamah makanan yang kuberikan,
tetapi
engkau tidak melakukannya.....
Ya, tidak mengapa, masih ada waktu yang
tersisa dan
Aku masih berharap engkau akan datang kepadaKu,
meskipun saat
engkau pulang ke rumah kelihatannya
seakan-akan banyak hal yang harus kau
kerjakan.
Setelah tugasmu selesai, engkau menghidupkan TV, Aku
tidak
tahu apakah kau suka menonton TV atau tidak,
hanya engkau selalu ke sana dan
menghabiskan banyak
waktu setiap hari di depannya, tanpa memikirkan
apapun
dan hanya menikmati siaran yang ditampilkan, hingga waktu-
waktu
untukKu dilupakan.
Kembali Aku menanti dengan sabar saat engkau
menikmati
makananmu tetapi kembali engkau lupa menyebut namaKu
dan
berterima kasih atas makanan yang telah Kuberikan.
Saat tidur Kupikir kau
merasa terlalu lelah.
Setelah mengucapkan selamat malam kepada
keluargamu,
kau melompat ke tempat tidurmu dan tertidur tanpa
sepatahpun
namaKu kau sebut. Tidak mengapa karena mungkin
engkau masih belum menyadari
bahwa Aku selalu hadir untukmu.
Aku telah bersabar lebih lama dari yang
kau sadari.
Aku bahkan ingin mengajarkan bagaimana bersabar terhadap orang
lain. Aku sangat menyayangimu, setiap hari Aku menantikan sepatah kata darimu,
ungkapan isi hatimu, namun tak kunjung tiba.
Baiklah..... engkau bangun
kembali dan kembali Aku
menanti dengan penuh kasih bahwa hari ini kau
akan
memberiKu sedikit waktu untuk menyapaKu...
Tapi yang Kutunggu ...
ah tak juga kau menyapaKu.
Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, Isya dan Subuh
lagi
kau masih tidak mempedulikan Aku.
Tak ada sepatah kata, tak ada
seucap doa, tak ada
pula harapan dan keinginan untuk sujud
kepadaKU....
Apakah salahKu padamu ...? Rezeki yang
Kulimpahkan,
kesehatan yang Kuberikan, Harta yang Kurelakan, makanan
yang
Kuhidangkan , Keselamatan yang Kukaruniakan,
kebahagiaan yang Kuanugerahkan,
apakah hal itu tidak
membuatmu ingat kepadaKu ???
Percayalah, Aku
selalu mengasihimu, dan Aku tetap
berharap suatu saat engkau akan menyapaKu,
memohon
perlindunganKu, bersujud menghadapKu ... Kembali
kepadaKu.
Yang selalu bersamamu setiap saat,
Tuhanmu....
Subscribe to:
Posts (Atom)
































