Saturday, 15 September 2012

Arti dari Kesempurnaan

Kesempurnaan...
Bagi orang yang religius, kesempurnaan hanyalah milik Tuhan.
Tapi mengapa kata itu masih dapat bersanding dengan makhluk yang bernama manusia?
Tanpa kemunafikan, kadang masih terlintas dalam benakku, saat melihat sosok seseorang yang sempurna.
Entah dari segi fisik, lingkungan, maupun finansial.
Kadang aku berpikir, mengapa ada orang yang diciptakan sesempurna itu?
Dan saat pikiran itu menyeruak, hati pun semakin tak menerima.
"Betapa beruntungnya dia. Sedangkan aku? Sungguh malangnya nasibku."
Jujur, rasa iri itu muncul begitu saja.
Sebagai sesama manusia yang diciptakan oleh satu pencipta, aku memang tidak menerima.
Ingin rasanya berontak, menuntut keadilan sang pencipta.
Tapi sekeras apapun aku mencoba, tetap tidak akan ada yang berubah.
Orang yang sempurna itu memang beruntung karena telah diciptakan sempurna.

Kesempurnaan.
Belakangan aku mengerti, kesempurnaan yang telihat oleh inderaku, bukanlah kesempurnaan yang sesungguhnya.
Setelah mendengar kisah hidup orang yang sempurna itu, ternyata hidupnya pun tidak mudah.
Banyak hal yang telah ia lalui. Banyak perih yang telah ia rasakan. Banyak pula cacian yang telah ia terima, untuk menjadi sosoknya sekarang ini.
Dan aku hanya menilai dirinya sekarang tanpa melihat dirinya yang dulu, hingga merasa bahwa dia beruntung.
Padahal untuk menjadi sosok yang sempurna itu tidaklah mudah. Sementara aku hanya melihat tanpa mencoba berusaha menjadi sepertinya.

Kini, aku mengerti. Tidak semua yang terlihat oleh penglihatan kita adalah benar.
Oleh karena itu, jangan menilai seseorang dengan begitu mudah.
Mungkin dia terlihat sempurna, tapi tanpa kita ketahui, dia bisa saja memiliki hidup yang sulit.
Sebaliknya, orang yang terlihat tidak sempuna, belum tentu dia tidak memiliki kelebihan apa-apa.
Setiap pribadi seorang manusia itu sempurna, karena ia telah dilahirkan dengan tingkat yang lebih tinggi dari makhluk lainnya. Tinggal manusia itu sendiri yang menentukan, apakah ia tetap dapat menjadi sempurna dalam menjalankan hidupnya atau tidak.
Itulah arti dari keempurnaan.

Thursday, 13 September 2012

Cerpen : Judul Skripsi



Judul Skripsi
“Arrghh... pusing!” teriak Rio sambil menjambak-jambak rambutnya sendiri tanda frustasi. Aku hanya menggeleng-geleng kepala melihatnya. “Ada apa, Yo?” tanyaku. Rio kemudian duduk di lantai sambil menyandarkan kepalanya ke tembok. Aura keceriaan sudah tak tampak lagi di wajahnya. Yang ada hanya kesukaran,  kegalauan, kegundahan, kecemasan, ketakutan, dan kebimbangan. Semua bercampur aduk hingga membuatnya terlihat seperti orang yang sedang berada di ambang kematian. Aku yang sedari tadi sibuk mengerjakan sesuatu dengan sebuah benda ajaib bernama laptop pun memutuskan untuk sejenak mengalihkan konsentrasiku untuk memfokuskan diri mendengarkan masalah sahabatku itu.
“Skripsiku, Fad. Mungkin sampai kapanpun aku tidak akan bisa membuatnya. Bahkan untuk mencari judul saja sudah membuatku hampir gila...” ucapnya dengan nada putus asa. Aku mengerti sekarang. Ternyata dia masih belum menemukan judul untuk skripsinya. Padahal seingatku dia sudah mencari judul sejak tiga minggu yang lalu.
“Jangan putus asa begitu, Yo. Coba kau berjelajah di perpustakaan kota, mungkin kau bisa menemukan inspirasi di sana.” ucapku mencoba menyemangatinya. Ya, paling tidak inilah yang bisa kulakukan. Karena jurusan kami berbeda, aku tidak bisa membantu apa-apa jika berhubungan dengan masalah pendidikannya. Aku yang sehari-harinya berkutat dengan angka-angka sangat berbeda dengannya yang berkutat dengan kata-kata.
“Ya, akan ku coba ke sana.” ucapnya masih dengan ekspresi yang sama. “Btw, apa yang sedang kau kerjakan?” tanya Rio sambil memerhatikan layar laptop yang masih dalam keadaan on. “Biasa, menyiapkan bahan untuk presentasi.” ucapku. Rio menghela nafas, “Kau memang hebat, Fad. Bagiku matematika adalah persoalan yang sulit, tapi kau bisa mngerjakannya dengan mudah. Sedangkan aku yang hanya mempelajari bahasa Indonesia sudah kesulitan hanya untuk menemukan satu judul saja. Bayangkan, Fad. Bukan bahasa Inggris, Jerman, China, atau Jepang, tapi bahasaku sendiri, bahasa Indonesia! Aku baru sadar betapa bodohnya diriku.”
“Jangan bicara seperti itu, Yo. Bagiku bahasa Indonesia sama sulitnya dengan matematika. Bahkan lebih sulit karena bahasa tidak hanya memerlukan kecerdasan pengetahuan, tetapi juga kecerdasan beretorika. Kau juga sudah  melalui semuanya sampai tinggal selangkah lagi, yaitu skripsi. Kau harus berjuang agar semua usahamu sampai saat ini tidak sia-sia. Aku yakin kau bisa melakukannya!” seruku bersemangat.
“Thanks, Bro.” Rio tersenyum tipis. Aku menepuk pundaknya untuk setidaknya menyalurkan semangatku agar dia lebih bersemangat. Hasilnya mujarab, Rio segera mengambil ranselnya dan berpamitan. Katanya dia akan ke perpustakaan kota. Aku harap dia bisa menemukan inspirasi untuk judul skripsinya di sana.
***
“Fadli! Fadli!” aku menoleh melihat orang yang memanggilku tadi. Ternyata dia Vania, teman satu kampusku. “Ada apa?” tanyaku saat Vania berdiri di dekatku setelah berlari kecil dari seberang jalan. “Bagaimana tugasmu? Sudah selesai?” ia bertanya. Aku mengangguk, “Sudah, sejak tiga hari yang lalu. Kalau kau?”
Vania menggeleng pelan, “Belum. Aku kesulitan mencari bahan. Hmm...maukah kau membantuku?” tanyanya lagi dengan tatapan penuh harap. Membuatku tidak tega untuk menolaknya. “Baiklah, aku akan membantumu. Kau sudah ke perpustakaan kota?”
Vania menggeleng lagi, “Belum. Memangnya di sana banyak bahan tentang tugas ini?” tampaknya dia ragu. Aku mengangguk pasti. “Baiklah, ayo temani aku ke sana!” serunya bersemangat. Aku pun mengiyakannya.
Perpustakaan kota yang terletak di jalan Jendral Sudirman ramai dikunjungi pelajar dan mahasiswa. Kalau perkiraanku benar, harusnya Rio masih berada di sini. Ini hanya berselang 40 menit sejak tadi dia berpamitan.
“Buku-buku matematika ada di rak paling belakang.” ucapku saat memerhatikan Vania yang sibuk celingak-celinguk. Kami pun berjalan menuju rak itu. Aku sesekali memerhatikan orang-orang yang berdiri di depan rak-rak buku yang kami lewati. Tapi aku tak juga menemukan sosok Rio. “Apa anak itu sudah pulang, ya?”gumanku. “Hah?Apa?” tanya Vania. Rupanya ia mendengar ucapanku. “Aku mencari Rio, beberapa menit yang lalu dia bilang mau ke sini tapi aku tidak melihatnya.” kataku. “Oh, teman satu kosmu itu? Sepertinya tadi aku melihatnya di jalan Andalas yang kulewati sebelum menemuimu.” Vania berpikir, “Sepertinya dia masuk ke rumah Anto. Kau tahu kan? Si Ahli pembuat skripsi aspal itu.”
“Apa?” Aku hampir tidak percaya mendengar kata-kata Vania. Benarkah Rio menemui Anto? Untuk apa dia menemui Anto? Jangan-jangan dia ingin memakai skripsi hasil jiplakan dari Anto? Sebenarnya apa yang ada di pikiran anak itu?
“Vania, aku harus pergi sekarang. Kau bisa kan’ mencari bahan sendiri?”
“Iya. Trima kasih sudah menemaniku.” Ucap Vania. Aku hanya tersenyum lalu bergegas pergi. Aku harus mencegah Rio.
***
Ternyata benar apa kata Vania. Rio memang berada di rumah Anto.
“Rio!” panggilku setengah teriak. Rio yang baru saja keluar dari rumah Anto terkejut melihatku. “Fa..Fadli?” ucapnya terbata-bata membuatku semakin yakin dia telah melakukan kesalahan.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya. “Kau sendiri? Apa yang kau lakukan di sini? Kau tidak bermaksud membuat skripsi jiplakan kan’?” tanyaku to the point. “Te..tentu, tentu saja tidak!” ucapnya mengelak. Namun sangat jelas kalau dia sedang berbohong. Rio, yang pandai beretorika itu mengucapkan kalimat sederhana dengan terbata-bata.
“Kau ini memang tidak bisa berbohong. Aku tahu kau pasti sudah memesan sebuah skripsi jiplakan pada Anto. Iya, kan?”
Rio menunduk. “Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, Fad. Otakku buntu. Kau tahu kan’ selama ini aku hanya menjalani proses perkuliahan seperti air yang mengalir. Aku tidak pernah bersungguh-sungguh dalam belajar. Akibatnya, sekarang, aku tidak tahu apa-apa. Tapi aku tidak bisa berhenti di tengah jalan karena aku tahu orang tuaku sangat menginginkan aku menjadi sarjana dan membuat mereka bangga. Aku terpaksa, Fadli.”
Rio, tampaknya dia sudah benar-benar putus asa sampai-sampai iblis berhasil membisikkan ide gila di pikirannya. Sepertinya aku harus menyeretnya kembali ke jalan yang benar!
“Percuma, Yo. Percuma mendapatkan gelar dengan cara yang curang, karna pada akhirnya kebenaranlah yang akan bertahan. Mungkin dengan skripsi jiplakan itu kau bisa meraih gelar sarjana. Tapi tidak ada yang menjamin kalau dua, empat, lima atau sepuluh tahun ke depan semua itu tidak akan ketahuan.  Jadi coba kau bayangkan bagaimana perasaan orang tuamu saat tahu anaknya lulus karena berlaku curang. Apalagi kau itu calon guru, Yo. Bagaimana kalau murid-muridmu kelak melakukan kecurangan? Kau sudah membahayakan masa depan bangsa Indonesia.”
Aku berjalan menghampiri Rio, “Belum terlambat, Yo. Mulai sekarang kau bisa mempelajari bidang studimu sebaik-baiknya sambil mencari judul yang tepat untuk skripsimu.”
“Kau benar, Fad. Tapi aku masih tidak yakin bisa melakukannya.”
“Kau pasti bisa. Bukankah kau baru memasuki tahun kelima? Kau masih mempunyai waktu dua tahun untuk mulai belajar sebaik-baiknya sebelum membuat skripsi. Lagipula lebih baik menjadi sarjana yang berkualitas daripada lulus hanya karena dikejar gengsi. Kau pasti bisa, Yo. Dimana ada niat baik, di situ ada jalan yang lurus.” ucapku sambil menepuk-nepuk pundak Rio. Rio mengangguk mengerti. Aku lega dia akhirnya menerima nasehatku.
***
Dua tahun kemudian...
“Arrghh...pusing!” teriak Rio sambil mengacak-acak rambutnya sendiri tanda frustasi. Aku hanya menggeleng-geleng kepala melihatnya. “Ada apa lagi, Yo?” tanyaku. Rio duduk di lantai sambil menyandarkan kepalanya ke tembok. “Besok, acara ramah tamah, Fad. Tapi aku gak punya kemeja!” ucapnya dengan nada mirip bintang iklan kartu selular. “Kau ini, masak kemeja pun tidak punya?” Aku beranjak dari dudukku kemudian mengambil bungkusan plastik yang tersimpan di lemari. “Ini” ucapku sambil menyerahkan bungkusan itu pada Rio. “Apa ini?” tanyanya sembari membuka isi bungkusan itu. “Hadiah dariku karena kau sudah lulus dengan IPK tertinggi!” seruku. Rio tersenyum senang, “Thaks, ya. Bro!” lalu memelukku erat. “Hei, lepaskan!” teriakku jijik.
“Apa yang kalian lakukan?” tanya Kak Ilham yang tiba-tiba muncul dari balik pintu. “Ini tidak seperti yang kakak bayangkan! Sungguh!” ucapku segera menjelaskan. Kak Ilham hanya mengangguk mengerti. “Iya, iya. Silakan dilanjutkan!”
“Apanya?!” tanyaku emosi. Sementara Rio hanya tertawa geli.
***




Don't copas without permission, ok!

Tuesday, 28 August 2012

Gwenchana...

Aneh, setiap orang yang kukenal selalu menanyakan hal yang sama saat bertemu denganku. Pertanyaan yang sama: "Apa kau baik-baik saja?". Awalnya aku bertanya-tanya, mengapa mereka memberiku pertanyaan yang sebelumnya tak pernah ada dalam kehidupanku. Apa aku baik-baik saja? Aku pun tidak tahu. Aku hanya menjawab dengan seulas senyum.
Memang masalah yang menimpaku saat ini mungkin tergolong berat bagi sebagian orang. Di usia semuda ini, namun harus menanggung keadaan seperti itu, aku tahu mereka mengkhawatirkanku. Aku tahu mereka akan ragu tentang keaadaanku. Mereka mungkin berpikir kalau aku adalah orang yang lemah. Orang yang dapat rapuh dengan begitu mudahnya. Orang yang mungkin akan terjun dari atap gedung tertinggi sejak empat bulan yang lalu. Seperti menenggak cairan beracun yang pernah kulakukan dulu.
Yah, kuakui aku memang sempat berpikir ke arah itu. Sempat terlintas keinginan untuk mengakhiri hidupku saja. Karna kini aku sudah tidak punya apa-apa. Aku bukan siapa-siapa. Mungkin lebih baik jika aku lenyap saja daripada membuat malu orang tua. Sempat terpikir untuk memotong urat nadi, menenggak cairan beracun, atau tenggelam bersama ombak di lautan. Kuakui, aku begitu lemah saat itu, hingga mungkin tak akan sanggup untuk sekadar mengangkat kepala menatap mata orang lain. Seandainya ada tempat di dunia ini yang bisa menjadi tempatku bersembunyi. Aku akan pergi ke tempat itu dan tidak akan keluar selamanya.
Tapi aku mengurungkan niat itu. Aku tidak mungkin melakukan hal itu saat aku sadar kalau keputusan yang telah kuambil itu merupakan jalan terbaik bagiku. Keputusan yang seharusnya sudah kuambil sejak awal. Hidup hanya sekali. Dan aku ingin menjalaninya dengan perasaan bahagia. Aku sudah tidak mau lagi merasa tersiksa demi orang lain. Aku tidak mungkin bertahan menjalaninya hanya untuk nama baik keluarga. Aku tahu keputusan ini melukai banyak pihak. Aku tahu aku sudah sangat melukai mereka. Tapi bagiku inilah jalan yang terbaik.
Orang-orang mungkin berpikir aku bodoh karna memilih keputusan ini. Tapi ada satu hal yang tidak mereka mengerti. Kebahagiaan. Kebahagiaan adalah satu-satunya hal yang kuinginkan. Untuk apa aku menjalaninya jika aku tidak bahagia? Untuk apa? Aku hanya ingin merasa bahagia. Paling tidak untuk sekali saja. Aku ingin merasa bahagia dengan kehidupanku. Dan itu tidak akan pernah aku dapatkan jika aku masih memilih bertahan...
Satu hal yang kupahami. Cinta adalah sumber kebahagiaan. Aku akan bahagia bersama orang-orang yang kucintai dan mencintaiku. Saat ini, aku sudah merasa bahagia bersama mereka. Dan aku tidak pernah menyesali akan keputusan yang telah kuambil.
Saat orang-orang bertanya, "Apa kau baik-baik saja?". Aku tidak hanya menjawabnya dengan seulas senyuman. Aku juga akan menjawabnya dengan kalimat: "Aku baik-baik saja, bahkan sangat baik karna sekarang aku bahagia..."

Gwenchana...

Friday, 17 August 2012

Someone's watching over me


Found myself today
Oh I found myself and ran away
Something pulled me back
The voice of reason I forgot I had
All I know is you're not here to say
What you always used to say
But it's written in the sky tonight

So I won't give up
No I won't break down
Sooner than it seems life turns around
And I will be strong
Even if it all goes wrong
When I'm standing in the dark I'll still believe
Someone's watching over me

Seen that ray of light
And it's shining on my destiny
Shining all the time
And I wont be afraid
To follow everywhere it's taking me
All I know is yesterday is gone
And right now I belong
To this moment to my dreams

So I won't give up
No I won't break down
Sooner than it seems life turns around
And I will be strong
Even if it all goes wrong
When I'm standing in the dark I'll still believe
Someone's watching over me

It doesn't matter what people say
And it doesn't matter how long it takes
Believe in yourself and you'll fly high
And it only matters how true you are
Be true to yourself and follow your heart

So I won't give up
No I won't break down
Sooner than it seems life turns around
And I will be strong
Even if it all goes wrong
When I'm standing in the dark I'll still believe
That I won't give up
No I won't break down
Sooner than it seems life turns around
And I will be strong
Even when it all goes wrong
When I'm standing in the dark I'll still believe
That someone's watching over
Someone's watching over
Someone's watching over me

Someone's watching over me

(Hillary Duff)

Thursday, 16 August 2012

I Miss You, Grandpa...

Kakek...
Sungguh suatu hal yang tak dapat kupercaya, saat kulihat tubuhmu terbaring tenang di tempat itu. Air mataku tak dapat menetes karena perasaanku yang belum meyakini sepenuhnya bahwa engkau telah dipanggil menghadap-Nya. Hatiku masih ragu. Aku terombang-ambing antara mimpi dan kenyataan. Yang kuharap semua itu adalah mimpi.
Tapi harapanku musnah saat tubuhmu masih terbaring di sana. Matamu tertutup rapat. Dan mulutmu tak mengeluarkan sepatah katapun. Aku bergetar. Tak dapat berbuat apa-apa. Seringkali, setiap melihatku, kau akan tersenyum, lalu menceritakan kisah-kisah perjuanganmu dahulu. Kadang juga kau menangis dengan alasan yang tak kumengerti. Tangisan yang tak seorangpun dapat menghentikannya. Tapi kini kau tak tersenyum maupun menangis. Engkau hanya diam. Barulah kusadari bahwa kau telah tiada...

Datok...
Maaf, adalah kata yang belum sempat kuucapkan padamu. Maaf, lama tak menemuimu karna kesibukanku. Sibuk? Bukan, sebenarnya aku tidak begitu sibuk. Hanya ketakutanku yang terlalu besar untuk menemuimu setelah apa yang terjadi padaku. Kau tahu, datok? Hidupku sangat sulit. Sehingga aku belum sanggup menerima omongan orang lain tentangku. Aku takut, Datok. Itulah sebabnya aku bersembunyi dan tak menemuimu...
Maaf, aku tidak menjengukmu ketika kau sakit. Maaf, aku tidak menemuimu saat momen-momen penting itu berlangsung dalam hidupku. Seandainya dulu aku sempat menemuimu dan memperkenalkan dia, mungkin kau pun tidak akan setuju karna kutahu kau orang yang pandai melihat kepribadian orang lain. Dan aku akan menurutimu, kakek. Tapi kini semua telah terjadi. Dan salahku yang telah berbuat sesuatu tanpa diketahui olehmu...
Maaf, kakek... Maaf...
Aku memang cucu yang tidak baik. Kumohon maafkan aku, atas segala hal yang telah kuperbuat yang telah menyakitimu...
Maaf...



Saat ini, yang dapat kuingat adalah wajahmu ketika tertawa. Dan aku merindukannya. Aku merindukanmu, Datok...
Semoga engkau tenang di sisi-Nya.....




Friday, 22 June 2012

Jung Il Woo, "Saya Berikan Semua Milikku Jika Saya Mendapatkan Pacar"



Jung Il Woo mengungkapkan gaya kencannya, menarik perhatian pemirsa.

Dalam 'Section TV' MBC yang ditayangkan pada tanggal 11 Maret, Jung Il Woo ditanya apakah dia akan memberikan pengorbanan cinta yang dilakukan Yang Myeong untuk Yun Woo di 'The Moon That Embraces The Sun,' dan dia menjawab "Ya."

Jung Il Woo mengatakan, "Jika saya mendapatkan pacar saya cenderung untuk memberikan segalanya." Dia lalu ditanya "Apakah Anda akan melekat dan cemburu pada pacar Anda?", Dan dia berkata "Sepertinya Yang Myeong itu sangat melekat pada Yun Woo?!" ucapnya sambil tertawa.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...