Friday, 16 August 2013

My Mistake 2 Part 3

Sudah sebulan berlalu sejak peristiwa itu. Pemuda bernama Radit itu telah menghilang dari pandangan Arlin. Tanpa kabar, tanpa sebab. Namun hal itu membuat Arlin tenang. Ia yakin Radit sudah menyerah dan melanjutkan hidupnya di tempat lain. 

Hari ini libur. Arlin mengunjungi kediaman orang tuanya di Bandung. Sesampainya di rumah, ibu Arlin menyambut kedatangan Arlin dengan perasaan bahagia. Karena pekerjaan, Arlin memang jarang pulang ke rumah orang tuanya. Jadi wajar saja ibu Arlin begitu bahagia melihat kedatangan putri sulungnya itu. 

“Istirahatlah, kau pasti lelah,” kata ibunya sambil membereskan piring kotor di meja makan. Arlin membantu ibunya mencuci piring. “Dimana Antony? Aku tidak melihatnya sejak tadi,” tanya Arlin pada ibunya. “Biasa, lagi main futsal. Memang adikmu yang satu itu tidak pernah betah tinggal di rumah,”jawab ibu Arlin. Arlin mengangguk mengerti. Setelah mencuci piring, Arlin menaiki tangga menuju kamarnya. Sepanjang tangga yang dilaluinya, terdapat foto-foto keluarga yang terpajang menghias dinding. Foto pertama, diambil ketika Arlin masih berusia sepuluh tahun bersama dua adiknya, Anita dan Antony yang saat itu berusia lima dan dua tahun. Foto kedua, adalah foto ibunya bersama almarhum ayahnya yang sudah pergi lima tahun yang lalu. Arlin terhenti sejenak pada anak tangga itu untuk memperhatikan wajah ayahnya dalam foto. Ada seberkas kerinduan yang tak dapat ia ungkapkan. Ia memang anak yang paling dekat dengan ayahnya. Foto ketiga, adalah foto keluarga yang diambil saat Arlin beranjak remaja. Dalam foto itu terlukis kebahagiaan keluarganya yang mungkin tak dapat terulang kembali. Foto ketiga, adalah foto yang baru dipajang. Arlin sendiri baru pertama kali melihatnya. Itu adalah foto Anita dengan gaun pengantin putih gading. Bersama seorang pria yang tak lain adalah suami Anita yang telah berpacaran dengan adiknya itu sejak SMA. Arlin ikut bahagia melihat adiknya itu mendapat suami yang baik. Foto terakhir adalah foto Arlin saat wisuda di Jerman. Arlin tak dapat membendung air matanya. 

Selama bertahun-tahun Arlin dihantui perasaan bersalah. Bersalah pada kedua orang tua dan adik-adiknya. Ia merasa bersalah telah mencoreng nama baik keluarga dengan menjadi satu-satunya orang yang mengalami perceraian. Ia merasa telah gagal menjadi contoh yang baik untuk adik-adiknya. Ia merasa menjadi beban hidup keluarganya. Apalagi saat ada acara keluarga besar, Arlin tak tahu dimana ia harus menyembunyikan wajahnya. 

Arlin berbaring di tempat tidurnya sambil menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya agar ia bisa menangis sepuasnya tanpa diketahui oleh siapapun... 

*** 

Hari terakhir di Bandung, Arlin mengajak ibu dan adik bungsunya, Antony ke Trans Studio. Hari itu hari libur, jadi suasana di pusat wahana itu cukup ramai. Setelah membeli tiket, Arlin sekeluarga pun memasuki Trans Studio dan mulai mencoba wahana yang ada satu per satu. 

“Ibu tunggu di sini, aku akan pergi membeli air minum. Anton, jaga ibu ya,” perintah Arlin. “Sip,sista,” seru Anton sambil menaikkan jempolnya. Arlin pun berjalan menuju counter minuman. Saat akan kembali ke tempat ibu dan adiknya menunggu, seseorang menepuk pundak Arlin. Ketika berbalik, Arlin terkejut bukan main. Minuman yang dibawanya jatuh dan tumpah membasahi kakinya. 

“Ternyata benar ini kau!,” seru pria itu. Arlin tidak dapat berkata apa-apa. Hatinya bagai teriris sembilu melihat seseorang yang dulu pernah menyakitinya itu. “Bagaimana kabarmu? Kau tampak makin cantik saja!” ujar pria itu tanpa merasa bersalah sedikitpun. Arlin menahan air matanya yang nyaris menetes. Arlin berusaha pergi tapi pria itu menahan tangannya. “Lepaskan!” teriak Arlin histeris. Ia jijik melihat tangan yang pernah memukulnya itu menyentuhnya lagi. “Jual mahal amat sih! Bagaimanapun aku ini masih mantan suamimu tau!” bentak pria itu. “Lepaskan!” Arlin tak dapat menahan air matanya lagi, ia ketakutan. “Lepaskan dia.” tiba-tiba seseorang datang melepaskan genggaman pria itu dari tangan Arlin. “Eh, lo siapa? Ada hubungan apa lo sama istri gue!” tanya pria itu. “Hubungan apapun, kurasa tidak ada hubungannya denganmu,” kata pemuda itu sambil menarik tangan Arlin menjauh. 

“Kau tidak apa-apa?”, tanya pemuda itu. Tubuh Arlin masih merinding karena takut. Ia berusaha mengendalikan ketakutannya dan menatap pemuda yang telah menolongnya itu. “Radit...” air mata Arlin mengalir deras. Ia tak tahu bagaimana harus berterima kasih pada Radit. “Sekarang sudah tidak apa-apa. Jangan menangis lagi,” kata Radit sambil menepuk-nepuk pundak Arlin pelan untuk menghentikan isak tangisnya. 

“Kakak dari mana saja, dari tadi ibu menanyakan kakak terus,”ujar Anton. “Kakak minta maaf, tadi kakak habis bertemu dengan seseorang, dia Raditya.” kata Arlin. “Radit? Lo Radit kan? Raditya Anggara!” seru Anton sambil memandangi Radit dari atas sampai bawah, “Lo makin keren aja bro,” lanjutnya. “Ya, Anton. Pa kabar nih?” tanya Radit balik. Arlin mengerutkan kening heran, “Kamu kenal Radit?” “Ya iyalah kak, masak kakak lupa sih. Waktu kecil kan’ Radit suka main ke rumah. Ya, Radit maklumi kakak gue yah, pengaruh usia nih,” ujar Anton yang langsung dibalas jitakan dari Arlin “Aw, sakit kak!,” keluh Anton. Radit tersenyum melihat tingkah kakak beradik itu. 

Sesampainya di rumah, ibu dan Arlin menuju dapur untuk mempersiapkan makan malam. Sementara Anton dan Radit mengobrol di ruang tamu. Pikiran Arlin masih tertuju pada Radit. Apa benar kalau dulu dia sering datang ke rumahnya? Arlin benar-benar tidak ingat. 

“Kamu pertama ketemu Radit dimana?”, tanya ibunya penasaran. Arlin bingung harus menjawab apa, ia tak mau jujur mengatakan kalau ia bertemu Radit karena sebuah kecelakaan. Ia takut ibunya akan khawatir. “Dulu Arlin sempat mengajar dia di kampus. Dia salah satu mahasiswa Arlin, bu.” kata Arlin. Ibu Arlin mengangguk mengerti, “Anak-anak memang tumbuh dengan cepat. Padahal ibu masih ingat dulu dia masih kecil sekali, lucu dengan pipinya yang tembem. Ibu tidak menyangka dia akan tumbuh dengan sangat baik, dan tampan, ibu sampai tidak yakin itu dia” lanjut ibu sambil tertawa kecil. Arlin kembali memutar memorinya, anak kecil berpipi tembem, tampaknya ia mulai mengingat anak itu. Tetangga yang dulu sempat tinggal di sebelah rumahnya. Ya, anak gemuk itu...Radit? 

“Sayang dia pindah rumah waktu itu, ibu sudah tidak pernah melihatnya. Hari ini barulah ibu melihatnya lagi,” kata ibu. “Lalu kapan tepatnya Radit pindah, bu?” tanya Arlin. Ibunya mengingat-ingat kembali waktu tepatnya. “Kalau tidak salah waktu dia berumur sebelas tahun, ya ibu ingat karena umurnya hanya berbeda setahun dari Anton. Tepat sehari setelah pernikahanmu dulu,” jelas ibu. Arlin terdiam membisu. Mungkinkah Radit memang sudah mengenalinya?


My Mistake 2 Part 2

Arlin bersiap berangkat ke kampus. Bukan sebagai mahasiswa, tapi sebagai dosen. Ya, Arlin memang seorang dosen yang merangkap sebagai mahasiswa di saat bersamaan. Arlin seorang dosen akuntansi yang sedang berusaha meraih gelar doktornya. Hari ini ia bertugas untuk menggantikan seorang dosennya yang sedang cuti karena berobat ke luar negeri. Arlin diberi tanggung jawab penuh untuk mengajar mahasiswa baru. 

Waktu tepat menunjukkan pukul 08.00 saat Arlin melangkahkan kakinya memasuki kelas. Tanpa canggung, Arlin berdiri di depan tiga puluh mahasiswa yang baru ditemuinya. Setelah memperkenalkan diri, ia pun mulai mengecek kehadiran mahasiswanya. 

Ada sekitar tiga puluh mahasiswa yang ia sebut namanya satu per satu. Mahasiswa bergiliran menyahut saat nama mereka disebut. Ada yang menjawab, “Hadir, bu.” Ada pula yang menjawab “Hadir, kak.” karena beranggapan umur dosen yang sedang memanggil namanya itu tak berbeda jauh darinya. Arlin memang terlihat muda walau usianya sudah menginjak tiga puluh tahun ini. Nama terakhir membuat Arlin terhenti sejenak. Raditya Anggara. Tampaknya nama itu tak asing baginya. Akhirnya, Arlin mengabsen nama terakhir itu. Seorang mahasiswa yang duduk paling belakang menyahut, “Hadir!” seru mahasiswa yang kepalanya diperban itu. 

*** 

Radit mengisap rokoknya kemudian menghembuskan asap racun tanpa merasa berdosa. Seorang pemuda berkacamata menepuknya dari belakang. “Woi! Kenapa kepala lo? Kok diperban gitu?” tanya pemuda bernama Bian itu. “Kemarin gak sengaja nabrak mobil,” ujar Radit sambil tetap menikmati kegiatannya merokok. Alis Bian mengkerut, “Nabrak atau ditabrak? Jelasin yang bener,” tanya Bian tak mengerti. “Nabrak! Gue nabrak mobil, masak gitu aja gak ngerti sih,” ketus Radit lalu berjalan meninggalkan Bian yang masih berusaha mencerna kalimatnya. 

Radit melangkah memasuki ruang dosen. Di depan sebuah meja bertuliskan papan nama Arlina Kamelia, M.E. ia duduk. Arlin yang sedang asyik membaca terkejut melihat Radit yang tiba-tiba muncul di hadapannya. “Aku lapar. Makan yuk!” ajak Radit tanpa tedeng aling-aling. Arlin keheranan melihat tingkah mahasiswanya itu. “Apa yang kau katakan?” tanya Arlin tak percaya. “ Aku belum makan dari kemarin. Kepalaku nyut-nyutan terus. Sekarang baru mendingan. Ayo kita pergi makan.” ujar Radit. Arlin mencoba menahan emosinya, “Apa kau sadar sedang berbicara pada siapa? Atau mungkin benturan di kepalamu sudah membuatmu tidak waras?”. Radit tersenyum mendengar ucapan Arlin. “Kau benar. Karena benturan itu aku jadi tidak waras. Kau harus bertanggung jawab.” Arlin menghela nafas panjang, “Jadi sekarang apa maumu?” tanya Arlin berusaha sabar. “Makan. Mudah kan’? Aku tunggu di gerbang belakang kampus.” ujar Radit lalu beranjak pergi. Arlin mendengus kesal. Entah apa yang harus ia lakukan pada pemuda tak tahu diri itu. 

Arlin menancap gas mobilnya meninggalkan kampus. Tanpa menemui Radit. Arlin merasa inilah yang harus ia lakukan daripada harus menuruti keinginan mahasiswanya yang tidak waras itu. 

Hari Senin berikutnya, Arlin kembali mengajar di kelas yang sama. Dengan mahasiswa yang sama. Dan ada Radit pula. Tanpa rasa canggung, Arlin mengajar. Walaupun sepasang mata terus menatapnya. Arlin pura-pura tidak menyadarinya. Tapi ia tahu sepasang mata yang terus menatapnya itu adalah Radit tanpa perban di kepalanya. Hanya saja Radit tampak lebih kurus dari minggu lalu. 

“Kenapa kau tidak datang?” tanya Radit saat mencegat Arlin memasuki mobilnya. “Radit, sebaiknya kau menghentikan tingkahmu ini. Aku ini dosenmu. Kau seharusnya lebih hormat padaku. Apa kau tidak sadar? Aku bisa melaporkan tingkah lakumu ini pada Ketua Jurusan. Kau pun tahu kan’ akibatnya jika itu kulakukan!” ujar Arlin tak bisa menahan kesabarannya lagi. “Laporkan saja.” balas Radit. “Lalu apa setelah kau melaporkanku, kau bisa memenuhi keinginanku? Kau tahu, aku belum makan dari minggu lalu. Dan sekarang perutku amat sangat lapar.” sambung Radit. Arlin tidak percaya akan apa yang didengarnya. Benarkah pemuda itu tidak sudah seminggu tidak makan? Memang pemuda itu tampak lebih kurus dari sebelumnya. Tapi apa benar dia sudah satu minggu tidak makan? Apa dia orang senekat itu? Akhirnya, Arlin menyetujui permintaan Radit. 

Di hadapan Arlin sudah tersaji berbagai macam hidangan. Mulai dari ayam bakar, kepiting pedas manis, udang goreng tepung, sambal balado, sayur kangkung tumis, dan rendang. Semua pesanan Radit. “Baiklah, sekarang saatnya makan. Selamat makan!” seru Radit girang. Lalu memakan makanannya dengan lahap. Sepertinya benar dia sudah tidak makan satu minggu, pikir Arlin. Radit tersedak karena makan terlalu cepat. “Pelan-pelan saja,” kata Arlin sambil menyodorkan minuman ke arah Radit. Radit heran melihat Arlin yang tidak makan. “Kenapa kau tidak makan?” tanya Radit. “Aku tidak lapar.” jawab Arlin. Radit mengangguk mengerti lalu melanjutkan makannya. 

Setelah selesai makan, Arlin dan Raditpun melangkah keluar restoran. Langit mulai gelap pertanda akan hujan. Arlin harus pulang ke rumah secepatnya, sebelum hujan turun. “Sekarang kita sudah impas, bukan? Jadi mulai sekarang anggap aku sebagai dosenmu.” kata Arlin. Radit tersenyum tapi tak mengatakan apa-apa. 

Hujan turun, sangat deras. Arlin yang baru akan menyeberang jalan menghentikan langkahnya. Tubuhnya tiba-tiba terpaku. Menggigil. Kaku. Tak dapat digerakkan. Hujan membasahi sekujur tubuhnya. Tapi Arlin tidak dapat berbuat apa-apa. Radit melihat kejadian itu lalu menarik tangan Arlin untuk berteduh di depan sebuah toko. “Ada apa denganmu?” tanya Radit cemas. Arlin hanya dapat menatap Radit tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Namun Radit bisa mengetahui kalau saat ini Arlin sangat ketakutan. Rasa takut yang tak bisa ia pahami sebabnya. Arlin tak kuat menopang tubuhnya. Ia jatuh pingsan. 

Radit menyeka wajah Arlin dengan handuk yang sudah ia basahi air hangat. Radit memandangi wajah itu. Masih tampak bekas kesedihan di sana. Kesedihan yang timbul akibat luka yang amat dalam. Radit ingin tahu penyebabnya. 

Tak lama kemudian Arlin sadar. Ia mendapati dirinya terbaring di sebuah kamar yang sangat asing baginya. Kamar bernuansa biru langit yang tak terlalu luas. Hanya ada sebuah tempat tidur kecil, lemari, dan meja bundar. Di samping lemari tampak buku-buku yang dibiarkan bertumpuk hingga membentuk menara yang cukup tinggi. Arlin mengerjapkan mata, ia tidak sedang bermimpi. Ia memang sedang berada di kamar yang sangat asing. Ia pun beranjak dari tempat tidur dan menyadari bahwa ia memakai pakaian yang bukan miliknya. Sebuah kaos lengan panjang yang kebesaran dan celana jeans pendek. Arlin terkejut melihat keadaan dirinya. Pikirannya mencoba mengingat kembali apa yang telah terjadi. Radit. 

“Oh, kau sudah bangun,” kata Radit saat muncul dari balik pintu. Ia membawa segelas cokelat panas yang ia letakkan di meja bundar. “A..Apa yang terjadi? Kenapa aku bisa berada di sini?” tanya Arlin. “Kau lupa? Kau pingsan di depanku. Karena aku tidak tahu rumahmu, jadi aku membawamu ke kos-ku” ujar Radit dengan ekspresi datar. “Apa? Ke kosmu? Apa kau sudah gila?! Lalu bagaimana dengan pakaianku? Jangan bilang kalau kau yang menggantinya!” Arlin mulai histeris. Ia tidak berani membayangkan apa yang terjadi. “Pakaianmu basah. Jadi, aku meminta ibu kos-ku untuk menggantikan pakaianmu. Aku tidak akan segila itu untuk menyentuh tubuh dosenku. Mengerti? Jadi apa sekarang kau bisa tenang dan duduk sebentar?” tanya Radit sambil menunjuk tempat di dekatnya di meja bundar. Arlin melihatnya ragu. “Lagipula di luar masih hujan,”sambung Radit. Perkataan Radit itu sukses membuat Arlin duduk. 

“Minumlah. Kau pasti haus,” kata Radit sambil menyodorkan segelas cokelat panas yang dibawanya tadi. Arlin tidak menghiraukannya. Ia cemas memikirkan dirinya yang harus terjebak di kamar mahasiswanya sendiri tanpa bisa berbuat apa-apa. “Kenapa? Apa kau tak percaya padaku? Apa aku terlihat seperti laki-laki bajingan? Kalau aku ingin melakukan hal yang tidak-tidak, aku pasti sudah melakukannya sejak tadi, waktu kau tidak sadarkan diri,” jelas Radit mencoba membuat Arlin percaya padanya. Arlin berpikir sejenak, ia memang sulit untuk mempercayai laki-laki setelah apa yang telah dialaminya. Tapi melihat wajah Radit, pikirannya berubah. Entah mengapa ia merasa mempercayai wajah itu. Tangannya kemudian bergerak memegang gelas itu dan meminumnya. 

“Apa karena hujan? Kau takut pada hujan?” tanya Radit meski ia sudah tahu jawabannya dari apa yang dilihatnya tadi. Arlin tidak langsung menjawab. Matanya menerawang jauh. Radit menghidupkan radio yang berada di dekatnya. Terdengar suara penyiar wanita yang bercuap-cuap kemudian memutar sebuah lagu. Seasons in the sun – Westlife mengalun mengisi ruangan. Suara rintik hujan samar berganti suara merdu Shane, Nicky, Mark, dan Bryan. 

“Benar, aku takut pada hujan. Hujan membuatku teringat masa lalu yang menyakitkan.” kata Arlin pelan. Radit terdiam, ia membiarkan Arlin melanjutkan ceritanya. “Entah apa aku harus menceritakan hal ini padamu. Kau mungkin tidak akan mengerti. Kau masih terlalu muda untuk mengerti,”. Arlin menghela nafas panjang. “Aku pernah menikah saat masih jadi mahasiswa strata satu semester tiga. Pernikahan karena dijodohkan. Dan menerima pernikahan itu adalah satu-satunya kesalahan terbesar yang pernah kulakukan dalam hidupku,” ungkap Arlin. Matanya mulai berkaca-kaca. Radit hanya menatap Arlin tanpa ekspresi terkejut sama sekali. Radit memang sudah tahu. Teman-temannya pernah bercerita tentang hal itu. 

“Aku telah salah memilih. Sosok yang menikahiku tidak seperti bayanganku sebelumnya. Dia kasar dan...selalu memukulku hanya karena aku berbicara pada teman priaku. Bukan hanya perlakuannya saja yang menyakitkan, tapi...juga perkataannya. Suatu hari, dia memukulku tanpa alasan, dengan stick golf miliknya. Lalu mengusirku saat hujan di luar sangat deras. Seluruh tubuhku terluka dan...rasanya semakin perih saat terbasuh air hujan...” 

“Sejak saat itu, aku sangat takut pada hujan. Aku tidak tahu alasannya... Hanya saja jika terkena sedikit saja air hujan, aku tak dapat mengendalikan tubuhku. Aku tak tahu bagaimana mengendalikannya...” air mata Arlin mengalir bak sungai mengingat peristiwa sepuluh tahun silam. Radit hanya dapat memberikan sapu tangan miliknya untuk menghapus air mata Arlin. 

“Sekarang kau tahu bagaimana hidupku yang sebenarnya. Inilah aku. Hanya seorang janda yang dipenuhi luka trauma. Aku menceritakan hal ini agar kau tahu yang sebenarnya. Aku tidak seperti yang kau pikirkan. Jangan menyia-nyiakan masa mudamu hanya karena orang sepertiku. Aku adalah dosenmu. Selamanya akan tetap seperti itu,” kata Arlin setelah dapat mengontrol dirinya kembali. 

“Memangnya kenapa? Apa menjadi janda itu sebuah dosa? Aku sama sekali tidak memikirkan hal itu. Aku menyukaimu, Arlin. Bisakah kau membiarkan aku mengobati lukamu? Aku berjanji tidak akan pernah menyakitimu,” kata Radit. Arlin tersenyum tipis mendengarnya. Tangannya bergerak membelai rambut Radit lembut. “Kau bahkan lebih muda dari adik bungsuku. Setiap melihatmu aku merasa seperti melihat adikku sendiri. Kau sangat manis. Tapi apa yang bisa kau lakukan? Kau hanya anak muda yang baru mengenal dunia. Seperti diriku sepuluh tahun lalu. Kau belum tahu apa-apa. Jangan terlalu cepat mengambil keputusan karena suatu saat kau pasti akan menyesalinya. Hujan sudah berhenti, aku harus pulang,” kata Arlin sambil beranjak menuju pintu. “Apa karena kau dosenku? Jadi aku tidak bisa bersamamu?” tanya Radit. Arlin tersenyum lalu pergi tanpa menghiraukan pertanyaan pemuda itu.

Wednesday, 14 August 2013

My Mistake 2 Part 1


Aku telah berbuat kesalahan. Kesalahan dalam menentukan pilihan. Namun, aku tak dapat memutar waktu dan mengubah pilihan itu. Aku telah salah. Dan kini aku harus menanggung kesalahanku itu....
“Hei, Arlin! Apa kabar?” seseorang menepuk pundak Arlin pelan. Arlin berbalik dan tersenyum mengetahui siapa yang menyapanya. “Riska?” tanya Arlin meyakinkan. Ia memang mengenal wajah itu, tapi tidak dengan penampilan seperti ini. “Ya, of course. Memangnya kau tidak mengenaliku?” tanya Riska. Arlin menggeleng pelan. “Aku tahu, hanya saja kau sedikit berubah”, kata Arlin seraya memperhatikan penampilan Riska dengan lebih seksama. Penampilan Riska memang tampak lebih mencolok dari dahulu. Rambut cokelat pirang yang sedikit bergelombang, mata yang dihias kontak lens biru laut, serta gaya pakaian yang sedikit terbuka, membuat Arlin sempat ragu kalau orang itu adalah temannya. “Tapi tetap aku tetap cantik kan?” kata Riska. Arlin mengangguk pelan, “Ya, kau cantik.” Riska tertawa kecil lalu mengajak Arlin untuk mengobrol di kafe terdekat.
“Sedang sibuk apa sekarang?” tanya Riska setelah mereka duduk di kursi kafe dekat jendela. Seorang pelayan datang mencatat pesanan mereka. Dua cangkir cappucino dan dua potong chesee cake. “Aku masih sibuk mengejar gelar doktor, sekarang sedang menyusun. Doakan ya semoga semuanya berjalan lancar.”, jawab Arlin. Riska memandang temannya itu kagum. “Kau hebat! Masih mau belajar. Aku sendiri masih beruntung bisa meraih gelar sarjanaku. Itupun berkat bantuanmu.” kata Riska. Arlin tersenyum, “Kau sendiri sedang sibuk apa sekarang?” tanya Arlin balik. Pesanan mereka datang. Setelah mengucapkan terima kasih, mereka  melanjutkan pembicaraan. “Sibuk jadi ibu rumah tangga. Aku kan’ sudah punya dua anak sekarang”, kata Riska. “Oh iya, maaf aku tidak datang ke acara pernikahanmu dulu. Waktu itu aku sedang berada di Jerman” ucap Arlin. “It’s okey. Aku tahu kau sibuk. Bagaimana kabar suamimu?” Deg! Pertanyaan Riska seakan menusuk jantung Arlin. Pertanyaan yang paling ia hindari. Pertanyaan paling tidak ia suka. Tetapi orang-orang terus saja menanyakan pertanyaan yang sama saat bertemu dengannya. Karena pertanyaan sederhana itu cukup kuat untuk mengorek kembali lukanya.
Arlin meyeruput cappucinonya. “Aku sudah berpisah” ucapnya kemudian. Riska terkejut mendengarnya. “Maaf, aku tidak tahu. Kenapa bisa?” tanya Riska lagi. Ia tidak menyangka Arlin akan berpisah secepat itu. Padahal ia menikah lebih dulu daripada Arlin. Arlin menyeruput cappucinonya lagi. Pahit. Itulah yang dirasakannya saat ini. Arlin tidak bisa mengatakan alasannya. Bukan, ia bukan tidak bisa tapi ia tidak mau. Memberikan alasan perpisahan itu sama saja dengan memaksanya kembali ke masa itu. Kembali merasakan kesakitan itu dan kepedihan yang menyelimutinya.
“Tidak ada kecocokan. Lagipula kejadiannya sudah lama. Aku tidak ingin mengungkitnya lagi”, ucap Arlin sambil tersenyum kecut. Riska mengangguk mengerti. Arlin memandang jam tangannya, sudah menunjukkan pukul 21.36. “Sudah malam. Kapan-kapan kita bisa bertemu lagi. Aku harus pulang.” kata Arlin. “Tentu. Berapa nomormu sekarang?”, tanya Riska. Arlin membuka tes kecilnya lalu memberikan selembar kartu namanya pada Riska. “Kau bisa menghubungiku kapan saja. Sampai jumpa.” kata Arlin sambil berlalu. “Iya, bye-bye.” Riska melambaikan tangannya ke arah Arlin yang telah berada di belakang kemudi mobil dan melaju pergi.
“Hebat!” Arlin masih mengingat pujian Riska. “Hebat? Kurasa kau salah. Justru kaulah yang hebat. Hidupmu sempurna, Riska. Kau bertemu seorang pria yang baik dan memiliki anak. Kau hebat!” guman Arlin. Matanya mulai kabur oleh butir-butir air yang menetes satu per satu ke pipinya. Ia tak tahu mengapa ia menangis. Ia hanya iri. Ia iri pada Riska.
Tiba-tiba seseorang melintas di depannya. Arlin mengijak rem refleks. Tetapi ia terlambat. Badan mobilnya telah menabrak seseorang. Arlin gemetar. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Jalanan memang sedang sepi. Tak ada seorangpun yang melihat kejadian itu. Lalu bagaimana keadaan orang yang ia tabrak itu? Arlin ingin keluar dari mobilnya dan melihat orang itu. Tapi ia takut menghadapi segala kemungkinan. Bagaimana kalau orang itu terluka parah? Atau bagaimana kalau orang itu sudah mati? Arlin semakin ketakutan. Ia tetap duduk mematung di balik kemudi mobilnya.
Seseorang bangkit. Arlin dapat melihatnya. Seorang pria yang sebagian wajahnya tertutup darah yang masih menetes. Pria itu mencoba melihat ke dalam mobil meski matanya disilaukan oleh cahaya lampu mobil yang telah menabraknya. Arlin semakin ketakutan. Pria itu menghampiri Arlin. Lalu mengetuk kaca mobil Arlin pelan. Arlin tak berani memandang wajah pria itu. Namun, Arlin menurunkan sedikit kaca mobilnya. Dipandangnya pria itu dengan sangat ketakutan. “Ma...”.
“Maaf.” kata pria itu mendahului Arlin. Arlin setengah terkejut mendengarnya. Atau mungkin ia yang salah mendengar? “Aku yang salah. Tidak melihat mobilmu melintas dan menyebrang begitu saja. Maaf”,  kata pria itu pelan lalu beranjak pergi. Arlin terpaku dalam kebingungan. Tapi ia segera keluar dari mobilnya dan menahan pria itu. “Kita ke rumah sakit”, ucapnya kemudian.
Pria itu keluar dari unit gawat darurat dengan perban di kepalanya. Lukanya sudah dibersihkan. Sehingga Arlin baru bisa melihat wajahnya dengan jelas. Ternyata pria itu masih sangat muda. Mungkin beda sepuluh tahun dari Arlin. “Kau masih di sini?” tanya pemuda itu. Arlin heran melihat sikap pemuda itu. Sudah jelas Arlin lebih tua darinya, tapi nada bicaranya sangat tidak sopan. Arlin menahan nalurinya sebagai pengajar untuk menceramahi anak muda itu. Ia sadar ini bukan saat yang tepat.
“Bagaimana keadaanmu? Apa kau bisa pulang sendiri? Atau bagaimana kalau aku mengantarmu pulang, dik?” tanya Arlin dengan sedikit menekankan pada kata Dik agar pemuda itu tahu ia lebih tua darinya. “Dik? Namaku bukan Dik, tapi Raditya. Kau bisa memanggilku Radit,” kata pemuda bernama Radit itu. Arlin sedikit kesal juga dibuatnya. “Sepertinya kau baik-baik saja. Kau pasti bisa pulang sendiri. Soal kecelakaan tadi, itu juga salahku. Aku minta maaf,” kata Arlin lalu beranjak pergi. Radit hanya diam saja. Namun ia tak dapat menahan bibirnya untuk tidak tersenyum.

Tuesday, 16 April 2013

Berita

a. Pengertian Berita

Berita berasal dari bahasa Sangsekerta “vrit” yang dalam bahasa Inggris disebut “write”, yang berarti “ada” atau “terjadi”. Ada juga yang menyebut dengan “vritta” yang berarti “kejadian” atau “yang telah terjadi”. Vritta dalam bahasa Indonesia kemudian menjadi “berita” atau “warta”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia rumusan Departemen Pendidikan Nasional, memperjelas arti berita, yakni cerita atau keterangan mengenai kejadian atau peristiwa yang hangat. Jadi menurut artinya berita dapat dikaitkan dengan kejadian yang terjadi.

Para sarjana publisistik maupun jurnalistik belum merumuskan definisi berita secara pasti. Ilmuan,penulis, dan pakar komunikasi memberikan definisi berita yang beraneka ragam diantaranya:

1) Dean M.Lyle Spencer mengemukakan bahwa berita adalah suatu kenyataan atau ide yang benar yang dapat menarik perhatian sebagian besar dari pembaca.

2) Willard C Bleyer mengemukakan bahwa berita adalah sesuatu yang termasa (baru) yang dipilih oleh wartawan untuk dimuat dalam surat kabar. Karena itu ia dapat menarik dan mempunyai makna bagi pembaca surat kabar.

3) William S Maulsby mengatakan bahwa berita adalah suatu penuturan secara benar dan tidak memihak dari fakta yang mempunyai arti penting dan baru terjadi, yang dapat menarik perhatian pembaca surat kabar yang memuat berita tersebut.

4) Eric C. Hepwood mengatakan bahwa berita adalah laporan pertama dari kejadian yang penting yang dapat menarik perhatian umum.

5) Micthel V. Charnley mengemukakan bahwa berita adalah laporan tercepat dari suatu peristiwa atau kejadian yang factual,penting,dan menarik bagi sebagian besar pembaca, serta menyangkut kepentingan mereka

6) Dja’far H. Assegaff mengatakan bahwa berita adalah laporan tentang fakta atau ide yang termasa (baru),yang dipilih oleh staf redaksi suatu harian untuk disiarkan yang dapat menarik perhatian pembaca. Entah karena luar biasa,entah karena pentingnya,atau akibatnya,entah pula karena ia mengandung unsur humor,emosi dan ketegangan.

7) J.B. Wahyudi mengatakan bahwa berita adalah laporan tentang peristiwa atau pendapat yang memiliki nilai yang penting,menarik bagi sebagian khalayak,masih baru dan dipublikasikan secara luas melalui media massa.

8) Amak Syarifuddin mengatakan bahwa berita adalah suatu laporan kejadian yang ditimbulkan sebagai bahan yang menarik perhatian publik media massa.

Dari beberapa pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa berita adalah laporan peristiwa atau kejadian yang cepat,nyata,penting,dan menarik yang disiarkan atau dipublikasikan media massa untuk para pembacanya.

b. Unsur-Unsur Berita

Dalam menulis berita, seorang wartawan mengacu kepada unsur-unsur berita sebagai “rumusan umum” penulisan berita, agar tercipta sebuah berita yang lengkap.Unsur-unsur berita itu dikenal dengan 5W+1H (what,who,where,when,why,how).
What (apa) : Apa yang tengah terjadi. Peritiwa atau kejadian apa yang sedang terjadi. Misalnya kecelakaan, kebakaran, pembunuhan, perampokan, perkelahian, perang, damai, perundingan, olahraga, kesenian dan sebagainya.
Who (siapa) : Siapa pelaku kejadian atau peristiwa itu. Siapa saja yang terlibat. Misalnya peristiwa perkelahian antar pelajar. Siapa pelakunya? SMP Cendrawasih melawan SMP Rajawali.
Where (di mana) : Dimana peristiwa atau kejadian itu berlangsung. Misalnya di sepanjang jalan menuju lapangan olahraga
When (kapan) : Kapan peristiwa atau kejadian itu berlangsung. Misalnya pagi tadi, kemarin, atau senin pagi kemarin. Agar beritanya menjadi baru cari data dari peristiwa atau kejadian baru, tidak lebih dari 24 jam.
Why (mengapa) : Mengapa kejadian itu bisa terjadi. Misalnya, karena pelajar putri SMP Cendrawasih diganggu oleh pelajar putra SMP Rajawali, sehingga menimbulkan kemarahan pelajar putra Cendrawasih, maka terjadilah perkelahian itu.
How (bagaimana) : Bagaimana kejadian itu bisa berlangsung. Untuk itu perlu diceritakan. Misalnya, ketika pelajar putri SMP Cendrawasih mengambil bola di dekat kerumunan anak-anak SMP Rajawali, tiba-tiba pelajar putra SMP Rajawali mencolek pelajar putri SMP Cendrawasih itu. Akibatnya teman-teman pelajar putri itu menjadi berang.terjadilah perkelahian itu.
 
c. Sifat Berita

Berita baik untuk surat kabar, radio, maupun televisi memiliki tiga sifat yang harus dipenuhi yaitu :

1) Berita Bersifat Mengarahkan

Berita bersifat mengarahkan artinya berita yang kita buat harus mampu mengarahkan perhatian pembaca, pendengar atau pemirsa sehingga mengikuti alur pemikiran kita. Jika mereka terpaku pada untaian kata yang kita tulis, atau kita baca maka mereka akan mudah kita pengaruhi.

2) Berita yang Bersifat Menumbuhkan atau Membangkitkan Semangat

Berita yang bersifat menumbuhkan atau membangkitkan semangat adalah berita yang mampu membuat para pembacanya lebih bersemangat dalam melakukan berbagai hal.Dengan berita kita juga bisa memberi rangsangan, dorongan, dan semangat.Tetapi dengan berita pula kita bisa menghancurkan lawan, menang perang, dan menguasai lawan.

3) Berita yang Bersifat Memberi Penerangan

Sifat berita lainnya, harus mampu memberi penerangan kepada masyarakat.Memberi penerangan maksudnya memberi penjelasan atau contoh-contoh kejadian yang tidak baik agar tidak ditiru oleh masyarakat.Kejadian yang jelek yang terjadi di tengah masyarakat dapat diangkat menjadi berita. Tetapi pembuatannya harus ditekankan pada kejelekan kejadian itu agar tidak dicontoh yang lain. Bukan malah mendukung kejadian atau perbuatan jelek yang terjadi itu. Apalagi sampai memberikan tambahan yang merangsang untuk ditiru.

d. Jenis Berita

Jenis-jenis berita yang dikenal di dunia jurnalistik antara lain:

1) Straight News, berita langsung, apa adanya, ditulis secara singkat dan lugas. Sebagian besar halaman depan surat kabar atau yang menjadi berita utama (headline) merupakan berita jenis ini.

2) Depth News, berita mendalam dikembangkan dengan pendalaman hal-hal yang ada di bawah suatu permukaan.

3) Investigation News, berita yang dikembangkan berdasarkan penelitian atau penyelidikan dari berbagai sumber.

4) Interpretative News, berita yang dikembangkan dengan pendapat atau penilaian wartawan berdasarkan fakta yang ditemukan.

5) Opinion News, berita mengenai pendapat seseorang, biasanya pendapat para cendekiawan,sarjana,ahli,atau pejabat. Mengenai suatu hal,peristiwa,kondisi poleksosbudhankam,dan sebagainya.

e. Bentuk Berita

Pada umumnya teknis penulisan berita mengenal dua bentuk yaitu, bentuk piramida dan piramida terbalik.Semula penulisan berita hanya menggunakan bentuk piramida saja.Tetapi dalam pengembangannya, berubah menjadi piramida terbalik. Ini karena sistem piramida kurang tepat disajikan dalam keadaan yang tergesa-gesa dan terbatasnya halaman koran.

1) Bentuk Piramida

Bentuk piramida adalah teknis penulisan berita yang diawali dari masalah kurang penting menuju yang paling penting.Teknik penulisan ini, dalam penyajiannya tidak terikat pada waktu atau batasan pemuatan berita. Kapan saja berita ini disajikan akan tetap saja menarik.Pada penyajian berita dengan teknis ini, hal-hal yang penting justru diletakkan di bawah. Seperti kesimpulan dan analisis dari penulis.Bagian atas beritanya dibuat menarik dengan penggunaan bahasa yang diatur secara runtut.Tubuh beritanya baru diisi dengan data dan fakta. Bentuk piramida susunan beritanya menjadi : tidak penting-penting-sangat penting.

2) Bentuk Piramida Terbalik

Tujuan dari penulisan piramida terbalik, adalah memudahkan pembaca menikmati berita secara cepat. Terutama untuk penerbitan surat kabar harian. Tidak smua pembaca mempunyai waktu yang cukup untuk membaca berita.Mereka yang sibuk umumnya hanya membaca sekilas atau yang penting-penting saja. Itulah sebabnya perlu kita bantu dengan penyajian yang cepat pula, agar pembaca dapat mengetahui apa yang terjadi.Berita yang tepat untuk ditulis dengan piramida terbalik adalah berita yang masuk kategori berita singkat. Urutannya dari yang paling penting-penting-tidak penting.Ini kebalikan dari piramida biasa.

Rangkuman

a. Pengertian Rangkuman

Rangkuman merupakan hasil kegiatan merangkum. Rangkuman dapat diartikan sebagai suatu hasil merangkum suatu tulisan atau pembicaraan menjadi suatu uraian yang lebih singkat dengan perbandingan secara proporsional antara bagian yang dirangkum dengan rangkumannya (Djuharni, 2001). Rangkuman dapat pula diartikan sebagai hasil merangkai atau menyatukan pokok-pokok pembicaraan atau tulisan yang terpencar dalam bentuk pokok-pokoknya saja. Pada tulisan jenis rangkuman, urutan isi bagian demi bagian, dan sudut pandang (pendapat) pengarang tetap diperhatikan dan dipertahankan.

b. Tujuan Membuat Rangkuman

Rangkuman dibuat untuk memendekkan sebuah karangan yang panjang. Seseorang yang akan membuat rangkuman harus memilah-milah mana gagasan utama dan gagasan tambahan. Karena tujuan rangkuman adalah memahami dan mengetahui isi dari sebuah buku, sehingga diperlukan latihan-latihan untuk membimbing seseorang agar dapat membaca karangan dengan cepat. Jadi salah satu tujuan dari membuat rangkuman yaitu untuk membantu seseorang agar bisa membaca sebuah buku dalam waktu singkat dan menghemat waktu. Seorang penulis rangkuman tidak akan membuat rangkuman yang baik bila ia kurang teliti dalam membaca dan tidak dapat membeda-bedakan gagasan utama dan gagasan tambahan. Kemampuan dalam membedakan tingkat-tingkat gagasan itu akan membantunya untuk mengasah kemampuan dalam gaya bahasa, dan menghindari pemakaian uraian panjang lebar yang mungkin masuk di dalam karangan tersebut.

c. Cara Membuat Rangkuman

Beberapa pegangan yang digunakan untuk membuat rangkuman yang baik dan benar antara lain:

1) Membaca Naskah Asli

Langkah awal yang harus dilakukan adalah seorang penulis rangkuman harus membaca naskah asli satu atau dua kali, bahkan dapat diulang beberapa kali hingga diketahui kesan umum secara menyeluruh mengenai isi dari naskah tersebut. Penulis juga perlu mengetahui maksud pengarang dan sudut pandang pengarang.

2) Mencatat Gagasan Utama

Jika penulis sudah mengetahui kesan umum, maksud asli serta sudut pandang pengarang, maka sekarang ia harus memperdalam dan mempertegas semua hal itu. Hal yang harus dilakukan selanjutnya adalah memahami kembali karangan bagian demi bagian, alinea demi alinea sambil mencatat gagasan-gagasan penting yangtersirat dalam bagian atau alinea itu.

3) Mengadakan Reproduksi 
 
Dengan menggunakan kesan umum pada langkah pertama diatas dan catatan-catatan yang diperoleh dari langkah kedua, maka seorang penulis sudah siap untuk memulai membuat rangkuman yang dimaksud. Dalam merangkum sebuah buku penulis menggunakan bahasa sendiri, tetapi kalimat tersebut masih berhubungan dengan gagasan-gagasan pokok dalam karangan asli.

Menulis

a. Pengertian Menulis

Kegiatan menulis merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam proses pembelajaran. Menulis berarti mengorganisasikan gagasan secara sistematis dan mengungkapkannya secara tersurat. Pada prinsipnya fungsi utama dari tulisan ini ialah sebagai alat komunikasi yang tidak langsung. Menulis sangat penting bagi pendidikan karena memudahkan pada pelajar berfikir secara kreatif.Menurut Tarigan (2008:22), menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang lain dapat membaca lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dangambaran grafik itu.

Hal serupa juga dikemukakan oleh Nuruddin (dalam Heriyanti, 2011:8) bahwa menulis adalah segenap rangkaian kegiatan seseorang dalam rangka mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada orang lain agar mudah dipahami. Definisi ini mengungkapkan bahwa menulis yang baik adalah menulis yang bisa dipahami oleh orang lain.Menulis merupakan kegiatan berbahasa yang tidak asing bagi kita. Menulis merupakan kegiatan yang menjadikan tulisan sebagai mediumnya. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat (2008) dikemukakan bahwa menulis merupakan kegiatan melahirkan pikiran atau perasaan dengan tulisan.

Sedangkan menurut Semi (2007:14) bahwa menulis merupakan suatu proses kreatif memindahkan gagasan ke dalam lambang-lambang tulisan. Dalam pengertian ini, menulis memiliki tiga aspek utama. Yang pertama, adanya tujuan atau maksud tertentu yang hendak dicapai. Kedua, adanya gagasan atau sesuatu yang hendak dikomunikasikan. Ketiga, adanya sistem pemindahan gagasan itu, yaitu berupa sistem bahasa.Dari beberapa definisi menulis di atas dapat disimpulkan bahwa menulis adalah menggambarkan perasaan,pikiran dan ide ke dalam bentuk lambang-lambang grafis. Keterampilan menulis merupakan suatu proses perkembangan yang menuntut pengalaman, waktu, kesempatan, latihan, keterampilan dan pengajaran langsung menjadi seorang penulis. Keterampilan menulis harus dipelajari dan dilatih secara terus-menerus.

Hairston dalam Heriyanti (2011:10) menyatakan bahwa ada beberapa alasan yang menyebabkan keterampilan menulis menjadi penting, yaitu:

1) Kegiatan menulis adalah satu sarana untuk mengemukakan sesuatu. Dalam hal ini dengan menulis,seseorang dapat membuka penyumbat otak dalam rangka mengangkat ide dan informasi yang ada di alam bawah sadar pemikirnya.

2) Kegiatan menulis dapat memunculkan ide baru. Ini terjadi jika seseorang membuat hubungan antara ide yang satu dengan yang lain dan melihat keterkaitannya secara keseluruhan.

3) Kegiatan menulis dapat melatih kemampuan mengorganisasi dan menjernihkan berbagai konsep atau ide yang dimiliki. Dengan menuliskan berbagai ide berarti seseorang harus dapat mengaturnya di dalam sebuah bentuk tulisan yang terpadu.

4) Kegiatan menulis dapat melatih sikap objektif yang ada pada diri seseorang. Menuliskan ide-ide ke dalam suatu tulisan berarti akan melatih diri untuk membiasakan membuat jarak tertentu terhadap ide yang dihadapi dan mengevaluasinya.

5) Kegiatan menulis dapat membantu diri seseorang untuk menyerap dan memproses informasi. Bila akan menulis sebuah topik, hal itu berarti harus belajar tentang topik itu dengan baik. Apabila kegiatan seperti itu dilakukan terus menerus, berarti akan mempertajam kemampuan di dalam menyerap dan memproses informasi.

6) Kegiatan menulis akan memungkinkan seseorang untuk berlatih memecahkan berbagai masalah sekaligus. Dengan menempatkan unsur-unsur masalah dalam sebuah tulisan berarti akan dapat menguji dan kalau perlu memanipulasinya.

7) Kegiatan menulis dalam sebuah bidang ilmu memungkinkan seseorang untuk menjadi aktif dan tidak hanya menjadi penerima informasi.

b. Hakikat Keterampilan Menulis

Akhadiah(1996:28) menjelaskan bahwa menulis:

1) Merupakan suatu bentuk komunikasi.

2) Merupakan suatu proses pemikiran yang dimulai dengan pemikiran tentang gagasan yang akan disampaikan.

3) Bentuk komunikasi yang berbeda dengan bercakap-cakap, dalam tulisan tidak terdapat intonasi,ekspresi wajah, fisik,serta situasi yang menyertai percakapan.

4) Merupakan suatu ragam komunikasi yang perlu dilengkapi dengan alat-alat penjelas serta aturan ejaan dan tanda baca.

5) Merupakan bentuk komunikasi untuk mencapai gagasanpenulis kepada khalayak pembaca yang dibatasi oleh jarak tempat dan waktu.

c. Manfaat Menulis

Akhadiah (dalam Sulastriningsih,2007:111) mengemukakan bahwa secara umum dengan menulis kita melakukan kegiatan berikut:

1) Wawasan bertambah luas.

2) Untuk menulis, penulis harus belajar tentang sesuatu sehingga penulis mengumpulkan fakta, menghubung-hubungkan, serta menarik kesimpulan.

3) Menulis berarti menyusun gagasan secara runtut dan sistematis. Dengan demikian, penulis menjelaskan sesuatu yang semula masih samar bagi dirinya.

4) Menulis menjadikan penulis belajar secara aktif.

5) Menulis yang terencana akan membiasakan penulis berfikir dan berbahasa secara tertib.

d. Tujuan Menulis

Setiap jenis tulisan mengandung beberapa tujuan. Secara umum Hugo Hartig (dalam Tarigan, 2008:25) merangkum tujuh tujuan penulisan suatu tulisan sebagai berikut:

1) Tujuan Penugasan (Assignment Purpose)

Tujuan penugasan ini sebenarnya tidak mempunyai tujuan sama sekali. Penulis menulis sesuatu karena ditugaskan, bukan atas kemauan sendiri (misalnya para siswa yang diberi tugas merangkumkan buku, sekretaris yang ditugaskan membuat laporan atau notulen rapat).

2) Tujuan Altruistik (Altruistic Purpose)

Penulis bertujuan untuk menyenangkan para pembaca, menghindarkan kedukaan para pembaca, ingin menolong para pembaca memahami, menghargai perasaan, dan penalarannya, ingin membuat hidup pembaca lebih mudah dan menyenangkan dengan karyanya itu.

3) Tujuan Persuasif (persuasive Purpose)

Tulisan yang bertujuan meyakinkan para pembaca akan kebenaran gagasan yang diutarakan.

4) Tujuan Informasional (Informasional Purpose)

Tulisan yang bertujuan memberi informasi atau keterangan/penerangan kepada para pembaca.

5) Tujuan Pernyataan Diri (Self-Expressive Purpose)

Tulisan yang bertujuan memperkenalkan atau menyatakan diri sang pengarang kepada para pembaca.

6) Tujuan Kreatif (Creative Purpose)

Tujuan ini erat hubunganya dengan tujuan pernyataan diri. Tetapi “keinginan kreatif” di sini melebihi pernyataan diri, dan melibatkan dirinya dengan keinginan mencapai norma artistik, atau seni yang ideal,seni idaman. Tulisan yang bertujuan untuk mencapai nilai-nilai artistik, nilai-nilai kesenian.

7) Tujuan Pemecahan Masalah (Problem-Solving Purpose)

Dalam tulisan seperti ini penulis ingin memecahkan masalah yang dihadapi. Penulis ingin menjelaskan, menjernihkan, menjelajahi serta meneliti secara cermat pikiran-pikiran dan gagasan-gagasannya sendiri agar dapat dimengerti dan diterima oleh para pembaca.

e. Langkah-langkah Menulis

Menulis merupakan proses kreatif yang harus dilalui secara bertahap sampai pada terwujudnya sebuah karya tulis. Menurut Semi (2007:46-52) tahapan atau proses penulisan bila dilihat secara garis besar dapat dibagi atas tiga tahap, yaitu:

1) Tahap Pratulis

Tahap pertama dalam menulis yang sangat menentukan kelanjutan proses menulis ialah tahap pratulis. Kegiatan tersebut terdiri dari empat jenis, yaitu: Pertama,menetapkan topik. Artinya, memilih secara tepat dari berbagai kemungkinan topik yang ada. Pada tahap ini, penulis mempertimbangkan menarik atau tidaknya sebuah topik. Kedua,menetapkan tujuan. Artinya, menetapkan apa yang hendak dicapai atau diharapkan penulis dengan tulisan yang hendak disusunnya.Ketiga, mengumpulkan informasi pendukung. Artinya, sebuah topik yang dipilih akan layak ditulis setelah dikumpulkan informasi yang memadai tentang topik tersebut.Keempat, merancang tulisan. Artinya, topik tulisan yang telah ditetapkan dipilah-pilah menjadi subtopik atau sub-subtopik. Hasil pemilihan ini disusun dalam suatu susunan yang disebut kerangka tulisan atau outline.

2) Tahap Penulisan

Tahap penulisan merupakan tahap yang paling penting karena pada tahap ini semua persiapan yang telah dilakukan pada tahap pratulis dituangkan ke dalam kertas. Pada tahap ini, diperlukan adanya konsentrasi penuh penulis terhadap apa yang sedang ditulis. Pada saat mencurahkan gagasan ke dalam konsep tulisan, penulis perlu berkonsentrasi pada tiga hal: pertama, konsentarasi terhadap gagasan pokok tulisan, kedua,konsentrasi terhadap tujuan tulisan, ketiga, terhadap kriteria calon pembaca,dan keempat, konsentrasi terhadap kriteria penerbitan, khususnya untuk tulisan yang akan diterbitkan.

3) Tahap Pascatulis
 
Setelah draf atau konsep tulisan selesai, tahap ketiga adalah tahap pascatulis, yaitu tahap penyelesaian akhir tulisan. Dalam pascatulis ini terdapat dua kegiatan utama yaitu: pertama, kegiatan penyuntingan, yaitu kegiatan membaca kembali dengan teliti draf atau tulisan dengan melihat ketepatannya dengan gagasan utama, tujuan tulisan, calon pembaca, dan kriteria penerbitan. Yang harus diperhatikan dalam kegiatan penyuntingan adalah kesalahan yang kentara seperti, ketepatan angka-angka, nama sesuatu, penulisan kutipan, penerapan ejaan yang sesuai dengan EYD. Kedua, penulisan naskah jadi, yaitu kegiatan paling akhir yang dilakukan setelah penyuntingan, barulah naskah jadi ditulis ulang dengan rapi dan dengan memperhatikan secara teliti masalah perwajahan.
 
Sumber:  
Tarigan, Henry Guntur. 2008. Menulis, Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Penilaian

A. Pengertian Penilaian

Penilaian adalah proses kegiatan untuk mengetahui apakah suatu program yang telah ditetapkan sebelumnya berhasil dengan baik atau tidak. Untuk mengetahui informasi tentang penilaian tersebut digunakan pengukuran, baik yang menggunakan instrumen tes maupun nontes. Tes adalah penyajian seperangkat pertanyaan atau tugas untuk dijawab atau dikerjakan. Untuk mengetahui hasil tes tersebut diadakan ujian. Ujian adalah cara penilaian yang dirancang dan dilaksanakan pada waktu dan tempat tertentu pula.

Evaluasi meliputi mengukur dan menilai. Evaluasi bukan hanya memberi angka dan menilai berhasil tidaknya suatu program, melainkan juga digunakan untuk membuat keputusan, sebab-sebab ketidakberhasilan, tindak lanjut dan solusi pemecahannya. Jadi, evaluasi adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang pencapaian hasil belajar.

Jadi, penilaian pendidikan adalah proses untuk menentukan kemajuan pendidikan dan usaha memperoleh umpan balik dari penyempurnaan pendidikan. Penilaian merupakan proses pengumpulan data untuk menentukan sejauh mana, dan dalam hal apa, bagaimana ketercapaian tujuan pendidikan, apa dan bagaimana yang belum tercapai dan apa sebabnya, serta apa tindak lanjutnya

B. Prinsip-prinsip Penilaian

Prinsip penilaian diperlukan sebagai pemandu dalam kegiatan evaluasi dengan demikian tidak hanya diutamakan prosedur dan teknik penilaian saja, tetapi prosedur dan teknik itu harus dilakukan dalam paduan prinsip itu. Prinsip-prinsip tersebut diuraikan berikut:

1. Prinsip Keterpaduan

Perencanaan penilaian harus dilakukan bersamaan dengan perencanaan penilaian satuan program pengajaran.

2. Prinsip Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)

Hakikat CBSA adalah keterlibatan siswa secara mental, antusias dan asyik dalam kegiatan belajar-mengajar. Demikian pula halnya dengan evaluasi, evaluasi menuntut keterlibatan yang demikian dari siswa. Siswa seharusnya tidak merasakan evaluasi sebagai sesuatu yang menekan dan cenderung untuk dihindari.

3. Prinsip Kontinuitas

Pada dasarnya evaluasi berlangsung selama proses kegiatan belajar mengajar berjalan. Evaluasi tidak hanya terdapat pada awa dan/atau pada akhir pengajaran saja, tetapi juga selama proses belajar mengajar berlangsung, misalnya dalam bentuk pengamatan, Tanya jawab, atau dialog.

4. Prinsip Keseluruhan

Evaluasi yang akan dilakukan hendaknya bersifat utuh yaitu meliputi seluruh segi tujuan pendidikan.

5. Prinsip Akuntabilitas

Akuntabilitas adalah salah satu ciri dari pendidikan berdasar kompetensi. Pada akhirnya pendidikan dan pengajaran harus dapat dipertanggungjawabkan kepada lembaga pendidikan itu sendiri, kepada masyarakat pemakaian tenaga lulusan, dan kepada kelompok professional.

C. Alat Penilaian Berdasarkan KTSP

1. Teknik Nontes

Macam-macam teknik nontes adalah :

a) Observasi adalah cara pengumpulan data yang sistematis untuk mengenal pribadi seseorang atau siswa. Observasi merupakan suatu pengamatan langsung terhadap siswa, antara lain : sikap, sifat, pertumbuhan, dan perkembangan perilaku siswa atau yang diamati.

b) Skala sikap adalah bagian dari nilai-nilai dan merupakan hasil belajar. Dengan kata lain sikap dapat dipengaruhi, diarahkan dan dibentuk dalam pendidikan sikap sesorang siswa menentukan bagaimana dia bereaksi terhadap situasi serta menentukan apa yang dicari dan diperjuangkan dalm kehidupannya.

c) Angket menurut Slameto (1999 : 128-131) adalah suatu daftar pertanyaan-pertanyaan tertulis yang harus dijawab oleh siswa yang menjadi sasaran dari angket tersebut ataupun orang lain. Pertanyaan dalam angket bergantung pada maksud serta tujuan evaluasi yang ingin dicapai.

d) Wawancara menurut Slameto (1999:131-134) adalah suatu teknik untuk mendapat data dengan mengadakan hubungan langsung bertemu muka dengan siswa (face to face relation).

e) Sosiometri, teknik sosiometri digunakan untuk mengetahui posisi seseorang siswa dalam hubungan sosialnya dengan orang lain.

f) Studi kasus, pada dasarnya mempelajari secara intensif siswa yang mengalami suatu kasus tertentu. Setiap data dicatat secara cermat, kemudian dikaji, dihubungkan satu dengan yang lainnya lalu menarik kesimpulan penyebab terjadinya kasus seorang siswa tersebut.

g) Penilaian unjuk kerja merupakan penilaian yang dilakukan dengan mengamati kegiatan peserta didik dalam melakukan sesuatu. Unjuk kerja ini dapat diamati dengan menggunakan daftar cek dan skala rentang.

h) Penilaian produk adalah penialain terhadap keterampilan dalam membuat suatu produk dan kualitas produk tersebut. Penialaian produk tidak hanya diperoleh dari hasil akhir saja tetapi juga proses pembuatannya yang meliputi tahap persiapan, tahap pembuatan, dan tahap penilaian.

i) Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus disesuaikan dalam periode atau waktu tertentu.

j) Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi tentang perkembangan peserta didik, baik berupa kemampuan akademik, emosional, dan sosial.

2. Teknik tes

a) Tes merupakan cara yang dipergunakan atau prosedur yang perlu ditempuh dalam rangka pengukuran dan pemberian tugas atau serangkaian tugas baik berupa pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab, atau perintsah-perintah yang harus dikerjakan sehingga dapat dihasilkan nilai yang melambangkan tingkah laku atau prestasi.

b) Bentuk-bentuk tes

- Tes uraian adalah suatu bentuk pertanyaan yang menurut jawaban siswa dalam bentuk uraian dengan mempergunakan bahasa sendiri. Dalam bentuk tes uraian siswa dituntut untuk berpikir tentang mempergunakan apa yang diketahui yang berkenaan dengan pertanyaan yang harus dijawab.

Klasifikasi tes uraian, yaitu:

1. Tes uraian bebas, peserta tes dalam jenis tes bebas adalah memiliki kebebasan yang luas dalam menjawab soal tersebut.

2. Tes uraian terbatas, peserta tes lebih dibatasi oleh berbagai rambu-rambu yang ditentukan dalam butir soal.

- Tes objektif disebut juga sebagai tes jawaban singkat. Tes jawaban singkat menuntut siswa hanya dengan memberikan jawaban singkat, bahkan hanya memilih kode-kode tertentu yang mewakili alternative-alternatif jawaban yang telah disediakan.

Jenis-jenis Tes Objektif, yaitu:

1. Tes benar salah, yaitu bentuk alat tes yang terdiri dari sebuah pernyataan yang mempunyai dua kemungkinan benar atau salah.

2. Tes pilihan ganda, yaitu bentuk tes yang memiliki lebih dari satu opsi (pilihan) yang juga pernyataan benar atau salah pada setiap alternative jawaban, hanya saja yang salah lebih dari satu.

3. Tes isian adalah mengisi perkataan, ungkapan, kalimat pendek sebagai jawaban terhadap hal yang tidaka lengkap. Tes isian ini merupakan suatu bentuk tes objektif yang terdiri dari pernyataan-pernytaan yang sengaja dihilangkan sebagai unsurnya.

4. Jawaban singkat adalah butir soal berbentuk pertanyaan yang dapat dijawab dengan satu kata, satu frasa, satu angka atau satu formula.

5. Butir soal jenis sjawaban melengkapi, digunakan untuk menguji kemampuan mengingat fakta dan prinsip yang sederhana dan kemampuan tingkat tinggi, seperti: pemahaman, aplikasi, bahkan tingkat penilaian, asalkan dikonstruksi secara hati-hati. Tes penjodohan, siswa dituntut untuk menjodohkan, menghubungkan, atau menyesuaikan antara dua pernyataan yang disediakan.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...